My childhood

My childhood

Resensi Buku “Udah Putusin Aja”

Judul          : Udah Putusin Aja

Pengarang  : Felix Y. Siauw

Penerbit      : PT. Mizan Pustaka - Bandung

Tebal          : 180 halaman

Berawal dari perkembangan remaja atau anak muda Indonesia di jaman sekarang yang identik dengan hubungan cinta yang namanya pacaran. Pacaran merupakan hubungan yang dianggap tanpa komitmen dan banyak keburukannya. Menurut data pada tahun 2010 dari BKBBN banyak usia muda antara 12 – 25 tahun yang terlibat pergaulan bebas, diantaranya melakukan hubungan suami istri di luar nikah hingga melakukan aborsi, rata-rata 50% remaja perempuan di kota besar di Indonesia sudah hilang kegadisannya. Ini merupakan data yang mengejutkan banyak pihak. Mengapa anak muda jaman sekarang lebih mudah terjerumus ke dalam kegiatan maksiat?. Hal inilah yang menjadi latar belakang penulis menyusun buku ini.

Semua berawal dari fitrah manusia yang Alloh Swt. Berikan kepada manusia, yaitu cinta, suatu perasaan ingin mengasihi dan menyayangi. Sebenarnya makna cinta itu luas, Islam tidak pernah mengharamkan cinta, justru Islam mengatur jalannya cinta agar terarah dan berjalan sesuai koridornya. Bila berbicara tentang cinta dengan lawan jenis, Islam mengaturnya melalui pernikahan. Sebaliknya Islam melarang segala bentuk interaksi yang memungkinkan terjadinya perzinaan. Pernikahan dimaksudkan untuk menjaga keturunan dan kemuliaan umat manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh salah kaprahnya pemahaman cinta itu sendiri.

Sialnya, kaum Muslim kini hidup dalam kungkungan masyarakat yang sebagian besar salah kaprah dalam cinta. Masyarakat tidak mengenal lagi kesakralan pernikahan dan kesucian diri, apalagi kehormatan dan kemuliaan jiwa. Semua sudah terganti dengan pergaulan bebas, ada yang menyebutnya pacaran, teman tapi mesra, dibalut dalam alasan kakak-adik, teman dekat, ataupun yang lainnya. Ada sebagian yang bertanya mengapa hanya pacaran yang tidak seberapa, hanya sebatas have fun atau bersenang-senang, berbahagia-bahagia saja itu dibahas habis-habisan di dalam buku ini. Alasannya, koban yang paling merugi dalam berpacaran adalah kaum wanita. Banyak dampak negatif yang dialami oleh wanita, sedangkan laki-laki masih bisa melenggang kangkung pergi meninggalkan tanpa bertanggungjawab.

Buku ini berisi kumpulan-kumpulan tuntunan yang lebih banyak ditujukan kepada kaum wanita dalam bentuk penggalan-penggalan kalimat singkat namun jleb atau sangat mengena di hati, mengenai apa-apa yang buruk tentang pacaran, apa yang harus dilakukan sebagai wanita ketika ada laki-laki yang menyatakan cinta, dan bagaimana cara menjadi wanita yang layak dinikahi. Selain kepada kaum wanita, juga ada tuntunan-tuntunan kepada kaum laki-laki mengenai bagaimana menjadi seorang laki-laki calon pemimpin rumah tangga nanti, bagaimana mengelola perasaan cinta terhadap lawan jenis, bagaimana cara mendapatkan jodoh dalam aturan Islam, dan interaksi yang seperti apa yang diperbolehkan dalam Islam dan dicontohkan oleh Rasululloh Saw.

Pacaran dalam pandangan Islam. Wanita dan laki-laki diciptakan sama namun berbeda secara fungsi dan penempatan, karena itulah aktivitas keduanya tidak disamakan. Sebagaimana Rasululloh Saw. sabdakan, aktivitas laki-laki dan wanita itu terpisah kecuali pada beberapa aktivitas khusus yang diperbolehkan syariat.  Wanita diharuskan menutup aurat dan menundukkan pandangan terhadap yang bukan mahramnya, bepergian dengan mahramnya, tidak ber-tabbaruj atau bertingkah menggoda laki-laki, dan tidak melakukan khalwat yang dapat menimbulkan fitnah. Bagi laki-laki yang belum mampu untuk menikah diharuskan untuk berpuasa agar terjaga hawa nafsunya sedangkan yang mampu untuk menikah diharuskan segera untuk menikah, dan menjaga pandangan dari hal-hal yang menimbulkan mudharat atau hal negatif. Dengan aturan ini, otomatis kegiatan pacaran adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam Islam dan tidak sesuai dengan apa yang disabdakan Rasululloh Saw. bahwa janganlah mendekati zina sebab zina merupakan perbuatan yang dibenci Alloh Swt dan pelakunya disiksa di neraka jahanam. Oleh sebab itu, penulis buku ini mengajak kepada kaum muslim yang sedang berpacaran untuk berhenti atau segera menikah jika mampu, bagi yang berpacaran namun tidak siap, “udah putusin aja”, suatu kalimat ajakan untuk segera mengakhiri perbuatan maksiat dan bertaubat kembali ke jalan yang benar.

Banyak alasan bagi yang tidak bisa memutuskan hubungan dengan pacarnya. Seperti ada pihak yang akan sakit hati, galau, tidak bisa move on atau susah melupakan mantan kekasih, takut dia bunuh diri dan sebagainya. Penulis kembali menegaskan dengan kalimat yang mengena mengenai arti cinta yang sesungguhnya, yaitu mencintai karena Alloh Swt dan meninggalkan karena Alloh Swt. penulis berupaya menyentuh hati para pembaca agar menyadari bahwa berpacaran adalah suatu hal yang salah dalam Islam.

Mayoritas masyarakat beranggapan bahwa pacaran adalah proses penjajakan sebelum pernikahan. Hal ini adalah salah kaprah yang sangat kronis. Ada yang mengatakan jika nikah tanpa pacaran lalu setelah nikah nanti ada suatu ketidakcocokan maka itu bisa menimbulkan perceraian. Menurut penulis hal itu tidak bisa dijadikan alasan, sebab penulis memberikan fakta justru di negara Non-Islam tingkat perceraian disana lebih tinggi dari negara kita, yang notabene pacaran adalah suatu hal yang biasa di negara Non-Islam tersebut. Islam kembali mengatur hal seperti ini melalui cara khitbah dan ta’aruf . Ta’aruf harus dipamahi dengan benar, mengenai tata caranya. Jika mencintai seorang wanita dan berniat ingin menikahinya, seorang laki-laki harus melewatinya melalui wali atau orangtua wanita tersebut dan upaya untuk meyakinkan diri bahwa dialah sang calon istri, Islam mengaturnya dengan ta’aruf , yaitu upaya mengenal calon istri dengan mendekati orangtuanya, sahabatnya dan saudaranya. Sedangkan khitbah  adalah upaya pihak laki-laki untuk meminang calon istri, dalam hal ini jika terjadi ketidakcocokan maka yang akan di-khitbah bisa menolak, khitbah ditujukan bagi pasangan yang siap dan menunggu waktu yang telah ditentukan. Khitbah tidak dilakukan berlama-lama dan penekanannya harus disegerakan agar tidak menimbulkan mudharat.

Di akhir buku ini, dibahas apa yang harus dilakukan bagi yang sedang menunggu jodoh dan mencari jodoh untuk memantaskan diri sehingga siap dalam membangun mahligai pernikahan. dibahas pula bagi orangtua yang mempunyai putri yang sudah dewasa dan siap menikah harus segera dinikahkan karena hal itu merupakan kewajiban bagi mereka, menunda-nunda berarti menambah dosa.

Penulis menyajikan bahasan dalam buku ini dengan kalimat yang menarik, renyah, menyentuh hati, dan dekat dengan bahasa remaja. Dengan judul “Udah Putusin Aja”  yang provokatif penulis berupaya medeskripsikan pandangan Islam mengenai pacaran, sehingga menggugah keimanan kita.

                                         ***

So far away from God and then so arrogant as we will life eternally. Be quiet now guys, we are weak, we just human with more conceited, it’s not what we wearing with, it’s God mine

Andaikan aku memahami firasat

Hari ini adalah satu minggu wafatnya tokoh agama kita, ust. Jefri Al-Buchori yang cukup akrab kita sapa dengan Uje, semoga amal ibadah semasa hidupnya diterima di sisi Alloh Swt dan diampuni dosa-dosanya.

Ya, hari ini adalah hari Jum’at, seperti biasa setiap pagi dengan rutin saya memanaskan motor. Pagi itu agendanya akan pergi ke kampus. Tidak lupa sarapan dulu sebelum berangkat sambil nonton berita tentang ustad Uje. Dalam lamunanku berpikir, andai saja malam itu dia di rumah mungkin gak akan terjadi musibah itu.

Musibah siapa yang tahu, kita hanya menjalankan hari-hari seolah kita masih akan hidup hingga tua. Dengan santai saya nyalakan MP3 lalu memasang earphones dan berangkat pagi itu penuh semangat. Motor kujalankan cukup kencang namun tidak seberapa karena jalanan di komplek banyak berlubang. Tidak ada firasat apapun sampai suatu ketika seorang pengendara motor yang lain memepetku dengan kecepatan tinggi. Antar badan motor bersentuhan hingga akhirnya aku bangun dengan kondisi tergeletak, lalu dengan setengah sadar aku lihat bagian depan motor saya hancur. Astaghfirullah dosa apa yang telah saya lakukan. Pengendara motor itu kabur dan meninggalkanku dalam kondisi tak ada yang menolong. Hingga ada seorang warga dan pemilik rumah yang pagarnya aku tabrak membantu menolongku.

Dalam kondisi sekujur badan yang sakit lalu aku teringat berita pagi itu, kemudian teringat tweet Aa Gym tentang kesiapan kita menghadapi musibah, lalu teringat kejadian dua hari lalu sempat hampir bertabrakan, kemudian aku ingat mimpi semalam begitu buruk. Lalu akhirnya aku mengingat Allah Swt telah memberikanku kesempatan untuk hidup. Yah, itulah mungkin sebuah bentuk firasat.

Sekarang kondisi tangan kiri dan bahuku dibalut perban, terdapat memar cukup parah. Padahal sebentar lagi kuliah lapangan akan dilaksanakan. Ya Allah sembuhkanlah :_(

 

motor kesayangan, sekarang keadaannya memilukan